Apa Itu WIP dalam Manufacturing?

  • Sistem Bisnis ERP
  • 14 Oktober 2026
  • 42 dilihat

Apa Itu Work in Progress (WIP) dalam Manufacturing dan Bagaimana Cara Mengontrolnya?

Dalam perusahaan manufacturing, tidak semua material yang masuk ke proses produksi langsung berubah menjadi barang jadi.

Bahan baku harus melewati berbagai tahapan, seperti cutting, machining, assembly, painting, quality control, hingga packaging. Pada setiap tahapan tersebut, terdapat material atau produk yang sudah mulai diproses tetapi belum selesai menjadi produk akhir.

Kondisi inilah yang dikenal sebagai Work in Progress (WIP).

Bagi perusahaan manufacturing, pengelolaan WIP sangat penting karena berkaitan langsung dengan kelancaran produksi, kapasitas mesin, waktu penyelesaian pesanan, nilai persediaan, dan efisiensi operasional.

Ketika WIP tidak dikontrol dengan baik, perusahaan dapat menghadapi masalah seperti penumpukan barang setengah jadi, keterlambatan produksi, penggunaan ruang yang berlebihan, hingga kesulitan mengetahui posisi aktual suatu pesanan.

Lalu, apa itu WIP, mengapa perlu dikendalikan, dan bagaimana cara perusahaan mengontrolnya?


Apa Itu Work in Progress (WIP)?

Work in Progress (WIP) adalah barang atau material yang sudah memasuki proses produksi tetapi belum selesai menjadi barang jadi (finished goods).

WIP berada di antara bahan baku dan produk akhir dalam alur manufacturing.

Secara sederhana:

Raw Material → Work in Progress → Finished Goods

Sebagai contoh, sebuah perusahaan furniture memproduksi meja kantor.

Proses produksinya meliputi:

  1. Pemotongan kayu

  2. Pembentukan komponen

  3. Perakitan

  4. Finishing

  5. Quality control

  6. Packaging

Kayu yang belum digunakan merupakan raw material.

Komponen meja yang sudah dipotong atau sedang dirakit termasuk WIP.

Meja yang telah menyelesaikan seluruh proses produksi dan dinyatakan siap menjadi persediaan barang jadi termasuk finished goods.

Dengan demikian, WIP menunjukkan pekerjaan yang sedang berada dalam proses manufacturing.


Mengapa WIP Penting bagi Perusahaan Manufacturing?

WIP bukan sekadar barang yang belum selesai.

Jumlah, lokasi, dan status WIP dapat memberikan gambaran mengenai kondisi operasional pabrik.

1. Menunjukkan Kondisi Aliran Produksi

Jika WIP menumpuk pada satu tahapan, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi adanya hambatan dalam alur produksi.

Misalnya:

Cutting → Assembly → Painting → Packaging

Ketika Cutting menghasilkan komponen lebih cepat daripada kemampuan Assembly memprosesnya, barang setengah jadi akan menumpuk sebelum Assembly.

Tanpa monitoring WIP, kondisi tersebut mungkin baru diketahui setelah area produksi mulai penuh.

2. Membantu Mengidentifikasi Bottleneck

Bottleneck adalah proses yang membatasi kemampuan keseluruhan alur produksi.

Dengan mengetahui jumlah WIP pada setiap tahapan, perusahaan dapat mengidentifikasi area yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Namun, penumpukan WIP tidak selalu berarti mesin bermasalah. Penyebabnya juga dapat berupa keterbatasan operator, jadwal kerja, material pendukung, atau proses quality control.

3. Mendukung Ketepatan Jadwal Produksi

Production planning membutuhkan informasi mengenai pekerjaan yang sedang berlangsung.

Jika status WIP tidak diketahui, PPIC akan kesulitan memperkirakan kapan production order dapat diselesaikan.

4. Mengurangi Risiko Penumpukan Barang Setengah Jadi

WIP yang berlebihan dapat meningkatkan kebutuhan ruang, aktivitas pemindahan barang, dan waktu tunggu antarproses.

5. Mendukung Pengendalian Nilai Persediaan

WIP juga memiliki nilai finansial karena dapat mencakup material yang telah digunakan dan biaya konversi yang terjadi selama proses produksi.

Karena itu, pengelolaan WIP dapat berkaitan dengan pencatatan biaya produksi dan pelaporan keuangan perusahaan.


Perbedaan Raw Material, WIP, dan Finished Goods

Dalam manufacturing, persediaan sering dikelompokkan berdasarkan tahapannya.

Jenis PersediaanPengertianContoh
Raw MaterialBahan baku yang belum digunakan dalam proses produksiLembaran baja
Work in ProgressMaterial atau produk yang sedang diprosesKomponen baja yang sudah dipotong tetapi belum dirakit
Finished GoodsProduk yang telah menyelesaikan proses produksiProduk rakitan siap dikirim

Pengelompokan tersebut membantu perusahaan memahami posisi material dalam siklus produksi.

Namun, bagaimana suatu item diklasifikasikan dan dicatat dapat bergantung pada proses manufacturing serta kebijakan akuntansi perusahaan.


Contoh WIP dalam Proses Produksi Pabrik

Misalnya sebuah perusahaan memproduksi 1.000 unit komponen logam.

Prosesnya terdiri atas empat tahapan:

Cutting → Machining → Assembly → Quality Control

Pada akhir shift, status produksinya sebagai berikut:

TahapanKondisi
Belum masuk produksi100 unit
Menunggu Machining setelah Cutting300 unit
Menunggu Assembly setelah Machining250 unit
Menunggu Quality Control setelah Assembly150 unit
Finished Goods200 unit

Total seluruh unit:

100 + 300 + 250 + 150 + 200 = 1.000 unit

Dalam contoh ini, WIP yang berada di antara tahapan produksi berjumlah:

300 + 250 + 150 = 700 unit

Artinya, dari 1.000 unit yang direncanakan:

  • 100 unit belum masuk produksi

  • 700 unit sedang berada dalam alur produksi

  • 200 unit telah selesai

Informasi seperti ini membantu PPIC dan management memahami posisi pekerjaan tanpa harus menunggu seluruh pesanan selesai.


Apa Penyebab WIP Menumpuk di Pabrik?

Penumpukan WIP dapat terjadi karena berbagai faktor.

1. Kapasitas Antarproses Tidak Seimbang

Misalnya:

ProsesKapasitas per Jam
Cutting200 unit
Machining100 unit
Assembly150 unit

Jika Cutting terus menghasilkan 200 unit per jam sementara Machining hanya mampu memproses 100 unit per jam, barang akan cenderung menumpuk sebelum Machining.

Dalam kondisi sederhana dengan aliran stabil, Machining menjadi bottleneck yang membatasi output.

2. Mesin Mengalami Downtime

Kerusakan mesin atau maintenance yang tidak direncanakan dapat menyebabkan pekerjaan berhenti pada suatu tahapan.

Sementara itu, proses sebelumnya mungkin masih berjalan dan terus menghasilkan barang setengah jadi.

3. Jadwal Produksi Tidak Sinkron

Setiap work center mungkin memiliki jadwal sendiri.

Jika jadwal antarproses tidak terkoordinasi, output dari satu proses dapat datang lebih cepat daripada kesiapan proses berikutnya.

4. Kekurangan Operator

Mesin tersedia, tetapi jumlah operator yang dibutuhkan tidak mencukupi.

Akibatnya, pekerjaan menunggu sebelum dapat diproses.

5. Material Pendukung Tidak Tersedia

Produk mungkin sudah melewati beberapa proses, tetapi tidak dapat melanjutkan tahapan berikutnya karena kekurangan komponen tambahan.

6. Proses Quality Control Terlambat

Barang yang telah diproduksi dapat tertahan karena menunggu pemeriksaan kualitas atau keputusan atas produk yang tidak sesuai spesifikasi.

7. Produksi Terlalu Banyak Sekaligus

Ukuran batch yang terlalu besar dapat menyebabkan satu proses menghasilkan barang lebih banyak daripada yang mampu ditangani proses berikutnya.

8. Tidak Ada Visibilitas Status Production Order

Jika pencatatan progres masih dilakukan secara manual dan terlambat, perusahaan mungkin tidak segera mengetahui di mana pekerjaan tertahan.


Dampak WIP Berlebihan terhadap Operasional

WIP yang tinggi tidak selalu buruk. Dalam kondisi tertentu, persediaan antarproses memang diperlukan untuk menjaga kesinambungan produksi.

Namun, WIP yang melebihi kebutuhan operasional dapat menimbulkan sejumlah masalah.

Ruang Produksi Semakin Penuh

Barang setengah jadi membutuhkan area penyimpanan dan penanganan.

Lead Time Produksi Menjadi Lebih Panjang

Semakin lama barang menunggu di antara proses, semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pesanan.

Modal Kerja Tertahan

Material dan biaya yang sudah masuk ke proses produksi belum berubah menjadi produk jadi yang siap dijual.

Risiko Kerusakan dan Salah Identifikasi

Semakin banyak barang yang menunggu atau berpindah lokasi, semakin penting pengendalian identitas, status, dan kualitasnya.

Jadwal Pengiriman Sulit Diprediksi

Jika posisi pekerjaan tidak terlihat, perusahaan akan kesulitan memperkirakan tanggal penyelesaian secara akurat.


Bagaimana Cara Mengontrol WIP dalam Manufacturing?

Pengendalian WIP perlu dilakukan melalui kombinasi production planning, monitoring, pengaturan kapasitas, dan prosedur operasional.

Berikut beberapa pendekatan yang dapat diterapkan.

1. Petakan Alur Proses Produksi

Langkah pertama adalah memahami seluruh tahapan manufacturing.

Contohnya:

Raw Material

↓

Cutting

↓

Machining

↓

Assembly

↓

Quality Control

↓

Packaging

↓

Finished Goods

Untuk setiap tahapan, perusahaan perlu mengetahui kapasitas, waktu proses, waktu tunggu, dan mekanisme perpindahan barang.

Pemetaan ini membantu menentukan titik monitoring WIP.

2. Tentukan Status WIP yang Jelas

Perusahaan perlu memiliki definisi status pekerjaan yang konsisten.

Contohnya:

  • Waiting

  • Ready for Production

  • In Progress

  • On Hold

  • Waiting for QC

  • Rework

  • Completed

Dengan status yang jelas, perusahaan dapat membedakan pekerjaan yang sedang diproses dari pekerjaan yang hanya menunggu.

3. Gunakan Production Order untuk Pelacakan

Setiap pekerjaan sebaiknya memiliki identitas yang dapat ditelusuri.

Misalnya:

Production Order: MO-2026-001

Produk: Komponen A

Target: 1.000 unit

Status: Machining

Output selesai: 450 unit

Sisa target: 550 unit

Data tersebut membantu perusahaan memonitor progres berdasarkan production order, bukan hanya jumlah barang secara keseluruhan.

4. Terapkan Batas WIP yang Sesuai

Perusahaan dapat menentukan batas jumlah pekerjaan yang diperbolehkan menunggu pada tahapan tertentu.

Pendekatan ini dikenal sebagai WIP limit.

Tujuannya adalah mencegah proses sebelumnya terus menghasilkan barang ketika proses berikutnya sudah terlalu penuh.

Penentuan batas perlu mempertimbangkan kapasitas, variasi permintaan, waktu setup, dan kebutuhan buffer operasional.

5. Identifikasi dan Kelola Bottleneck

Jika suatu proses memiliki kapasitas lebih rendah daripada proses lainnya, perusahaan perlu mengevaluasi cara mengelolanya.

Pilihan perbaikan dapat mencakup:

  • Penyesuaian urutan pekerjaan

  • Pengurangan waktu setup

  • Penjadwalan maintenance

  • Perbaikan alokasi operator

  • Evaluasi kapasitas mesin

  • Pengurangan waktu tunggu

Perbaikan sebaiknya difokuskan pada penyebab hambatan yang benar-benar terukur.

6. Monitor WIP Secara Berkala

Perusahaan dapat melakukan monitoring per shift, harian, atau berdasarkan kebutuhan proses.

Informasi yang dipantau antara lain:

  • Jumlah WIP per work center

  • Umur WIP

  • Production order yang tertahan

  • Output aktual

  • Reject dan rework

  • Waktu tunggu antarproses

Monitoring yang konsisten membantu mendeteksi masalah sebelum menumpuk terlalu besar.

7. Integrasikan Data Produksi dengan Inventory

Perpindahan material antarproses perlu memiliki mekanisme pencatatan yang sesuai.

Integrasi membantu perusahaan memahami hubungan antara bahan baku yang dikeluarkan, material yang sedang diproses, dan produk jadi yang dihasilkan.


Apa Itu WIP Aging?

WIP aging adalah informasi mengenai berapa lama suatu pekerjaan atau barang setengah jadi berada dalam status atau tahapan tertentu.

Contohnya:

Production OrderLokasi ProsesLama Menunggu
MO-001Machining2 jam
MO-002Assembly8 jam
MO-003Quality Control2 hari

Dengan data tersebut, perusahaan dapat mengidentifikasi pekerjaan yang terlalu lama tertahan.

Namun, batas waktu yang dianggap bermasalah perlu disesuaikan dengan karakteristik proses.

Waktu tunggu dua hari mungkin normal untuk proses tertentu, tetapi terlalu lama untuk proses lainnya.


Mengukur WIP dengan Little's Law

Salah satu konsep yang berguna untuk memahami hubungan antara WIP dan waktu penyelesaian adalah Little's Law.

Dalam kondisi sistem yang relatif stabil, hubungan dasarnya adalah:

WIP = Throughput × Flow Time

Keterangan:

  • WIP: rata-rata jumlah unit dalam sistem

  • Throughput: rata-rata unit yang selesai per satuan waktu

  • Flow Time: rata-rata waktu unit berada dalam sistem

Sebagai contoh:

Sebuah lini produksi menyelesaikan rata-rata 100 unit per hari.

Rata-rata waktu yang dibutuhkan satu unit untuk melewati sistem adalah 3 hari.

Maka:

WIP = 100 × 3 = 300 unit

Artinya, rata-rata terdapat sekitar 300 unit yang berada dalam sistem tersebut.

Jika throughput tetap 100 unit per hari dan rata-rata flow time meningkat menjadi 5 hari, WIP rata-rata menjadi sekitar 500 unit.

Contoh ini menunjukkan hubungan antara penumpukan pekerjaan dan waktu alir produksi.

Perhitungan harus menggunakan batas sistem dan satuan yang konsisten. Little's Law menggambarkan hubungan rata-rata dalam sistem yang stabil, bukan jaminan bahwa mengurangi WIP secara sembarang akan otomatis mempertahankan output.


KPI untuk Monitoring WIP

Perusahaan dapat menggunakan beberapa indikator untuk mengevaluasi pengendalian WIP.

KPITujuan
WIP QuantityMengetahui jumlah barang dalam proses
WIP AgingMengetahui pekerjaan yang terlalu lama tertahan
Production Lead TimeMengukur waktu penyelesaian produksi
ThroughputMengukur output selesai per periode
Plan vs ActualMembandingkan target dengan realisasi
Work Center UtilizationMemantau penggunaan kapasitas
Reject & ReworkMemantau masalah kualitas
On-Time CompletionMengukur ketepatan penyelesaian production order

Pemilihan KPI perlu disesuaikan dengan proses manufacturing perusahaan.


Bagaimana Sistem Monitoring Produksi Membantu Mengontrol WIP?

Ketika jumlah production order semakin banyak, pencatatan manual dapat menjadi sulit dikelola.

Sistem monitoring produksi dapat membantu perusahaan melihat status pekerjaan secara lebih terpusat.

Fitur yang dapat dikembangkan antara lain:

Dashboard WIP per Work Center

Menampilkan jumlah pekerjaan yang menunggu, sedang diproses, dan selesai pada setiap tahapan.

Production Order Tracking

Menampilkan progres produksi berdasarkan nomor pekerjaan.

Barcode atau QR Code Tracking

Membantu pencatatan perpindahan pekerjaan antarproses melalui pemindaian identitas yang sesuai.

WIP Aging Report

Menampilkan pekerjaan yang melewati batas waktu tunggu yang ditentukan.

Bottleneck Monitoring

Membantu mengidentifikasi area dengan antrean pekerjaan atau waktu proses yang tidak sesuai target.

Plan vs Actual Dashboard

Membandingkan target output dengan realisasi produksi.

Reject dan Rework Tracking

Mencatat produk yang memerlukan pemeriksaan atau pengerjaan ulang.

Fitur-fitur tersebut perlu dirancang berdasarkan proses aktual, bukan hanya berdasarkan tampilan dashboard.


Hubungan WIP dengan ERP Manufacturing

Dalam perusahaan yang memiliki banyak proses produksi, pengendalian WIP dapat menjadi bagian dari sistem ERP manufacturing.

Alur operasionalnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Sales Order

↓

Production Planning

↓

Bill of Materials (BOM)

↓

Material Requirements Planning (MRP)

↓

Raw Material Inventory

↓

Manufacturing Order

↓

Work in Progress Tracking

↓

Quality Control

↓

Finished Goods

↓

Delivery

Dengan integrasi yang sesuai, perusahaan dapat menghubungkan kebutuhan material, status pekerjaan, konsumsi bahan baku, dan hasil produksi.

Platform ERP seperti Odoo menyediakan kemampuan manufacturing dan work order yang dapat digunakan untuk mendukung pencatatan proses produksi.

Namun, kebutuhan monitoring WIP yang sangat detail—misalnya pelacakan unit individual, status real-time dari mesin, atau integrasi perangkat produksi—dapat membutuhkan konfigurasi, modul tambahan, atau pengembangan sistem khusus.


Kapan Perusahaan Membutuhkan Sistem WIP Tracking?

Perusahaan dapat mulai mempertimbangkan sistem WIP tracking ketika menghadapi kondisi seperti:

  • Sulit mengetahui posisi barang setengah jadi

  • Production order sering tertahan tanpa penyebab yang jelas

  • Banyak proses produksi berjalan secara paralel

  • WIP menumpuk di beberapa work center

  • PPIC sulit memperoleh data progres aktual

  • Management tidak memiliki visibilitas produksi

  • Barang sering berpindah lokasi tanpa pencatatan

  • Data produksi baru tersedia setelah akhir shift

  • Sulit membedakan barang normal, reject, dan rework

Pada kondisi tersebut, digitalisasi monitoring WIP dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan transparansi operasional.


Langkah Awal Implementasi Sistem WIP Tracking

Sebelum memilih software, perusahaan sebaiknya memetakan proses produksi yang berjalan.

Pertanyaan yang perlu dijawab antara lain:

Apa saja tahapan produksi?

Bagaimana production order dibuat?

Bagaimana barang berpindah antar work center?

Siapa yang mencatat hasil setiap proses?

Bagaimana barang reject dan rework ditangani?

Kapan suatu pekerjaan dianggap selesai?

Bagaimana PPIC menerima informasi progres?

Dashboard apa yang dibutuhkan management?

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digunakan untuk merancang sistem yang sesuai dengan workflow perusahaan.

Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak hanya mendapatkan aplikasi pencatatan, tetapi juga proses monitoring yang lebih terstruktur.


Kesimpulan

Work in Progress (WIP) adalah barang atau material yang sudah memasuki proses manufacturing tetapi belum selesai menjadi finished goods.

Pengendalian WIP penting karena memengaruhi kelancaran produksi, waktu penyelesaian pesanan, penggunaan ruang, dan visibilitas operasional.

WIP yang tidak terkontrol dapat menyebabkan penumpukan barang setengah jadi, waktu tunggu yang panjang, serta kesulitan mengidentifikasi bottleneck.

Untuk mengelolanya, perusahaan perlu membangun proses yang mencakup:

  • Pemetaan tahapan produksi

  • Pencatatan status pekerjaan

  • Production order tracking

  • Monitoring WIP per work center

  • Pengendalian bottleneck

  • Evaluasi WIP aging

  • Integrasi dengan inventory dan production planning

Dengan proses dan sistem yang tepat, perusahaan dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai pekerjaan yang sedang berlangsung dan mengambil keputusan produksi berdasarkan data yang lebih konsisten.


Konsultasi Sistem WIP Tracking & ERP Manufacturing

Apakah perusahaan Anda kesulitan mengetahui posisi barang setengah jadi, memonitor progres production order, atau mengidentifikasi proses yang menyebabkan penumpukan pekerjaan?

tangerangwebsite.id membantu perusahaan mendiskusikan kebutuhan digitalisasi operasional, termasuk sistem monitoring produksi, WIP tracking, inventory, production planning, dan integrasi ERP manufacturing.

Pendekatan dapat dimulai melalui business process mapping untuk memahami alur material, tahapan work center, mekanisme pencatatan output, serta kebutuhan dashboard PPIC dan management.

Dari pemetaan tersebut, sistem dapat direncanakan sesuai karakteristik proses produksi perusahaan.

Diskusikan kebutuhan sistem WIP tracking dan digitalisasi manufacturing perusahaan Anda melalui tangerangwebsite.id dengan klik disini